Skip to main content

Seniman

Shinta Febriany

Shinta Febriany bekerja sebagai sutradara, penulis naskah, dan penyair. Karya-karya Shinta dikenal karena menantang stereotip gender, mengeksplorasi ketubuhan, dan meneliti masalah perkotaan kontemporer. Atas dedikasinya di bidang teater dia dianugerahi penghargaan Celebes Award dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (2007) dan Gau’ Maraja Award dari Badan Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan (2020).

Beri Aku Pantai yang Dulu, Gila Orang Gila, dan Jangan Mati Sebelum Dia Tiba merupakan tiga naskahnya yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan diterbitkan di buku New Indonesian Plays (Aurora Metro Books, London 2019). Buku puisinya Aku Bukan Masa Depan diterbitkan Bentang, 2003 dan Gambar Kesunyian di Jendela oleh Gramedia, 2017. Dia menjalani Residensi Penulis Indonesia di Inggris pada tahun 2018 atas dukungan Komite Buku Nasional dan sebagai kurator Festival Teater Indonesia 2025 dan kurator program Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival 2025.

Shinta adalah kurator dan penyunting buku Menggoreng Bawang Merah - Naskah Teater Pilihan Kalampuan 2021-2023 (bersama Brigitta Isabella dan Azhari Aiyub, Teroka, 2025), Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman (Kalabuku, 2025), Beribu Surat: Antologi Surat Feminis dari Indonesia (bersama Brigitta Isabella, Peretas, 2024), Pulih (Kalabuku, 2023), dan Hidup Teater, Teater Hidup: 17 Tahun Kala Teater (bersama Ibed S. Yuga, Kalabuku, 2023).

Nirwana Aprianty

Nirwana Aprianty adalah aktor, sutradara, dan penulis naskah. Karya-karyanya berintensi menghidupkan kisah perempuan minoritas yang terabaikan melalui pengalaman personal dan sosialnya. Dia meraih penghargaan Aktris Terbaik Festival Film Makassar 2021 dan merupakan alumni KalamPuan Penastri 2023, Temu Seni Monolog Indonesia Bertutur 2023 di Kota Malang, Kelas Bedah Naskah oleh Joned Suryatmoko 2023, Workshop Daya Ungkap Naskah oleh Satoko Ichihara 2024.

Dia terlibat proyek Kota dalam Teater dan telah pertunjukan di berbagai kota di Indonesia antara lain, Passompe – Perjalanan Melintas Batas Kesedihan –, karya sutradara Shinta Febriany, Makassar (2024) dan Kendari (2025). Selain itu, ia tampil sebagai aktor dalam pertunjukan Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup, karya sutradara Shinta Febriany, yang dipentaskan dalam program Indonesia Bertutur di Ubud, Bali (2024).

Naskahnya turut dalam kumpulan Menggoreng Bawang Merah - Naskah Teater Pilihan KalamPuan 2021-2023 (Teroka, 2025) dan Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman (Kalabuku, 2025).

Aktor

Sukarno Hatta

Sukarno Hatta merupakan aktor dan sutradara di Kala Teater. Ia tertarik mengeksplorasi isu pendidikan, relasi sosial, serta hubungan keluarga berkaitan dengan aktivitas mengajarnya di sebuah sekolah swasta. Ia menggagas program Teater Masuk Pesantren sebagai upaya edukasi peran orang tua dan guru terhadap perundungan yang kerap terjadi di lingkungan pesantren.

Ia terlibat Proyek Kota dalam Teater yang dipentaskan di Makassar, Jakarta, dan Lombok serta sutradara pertunjukan Kisah Kirana (2024), Janji Senja (2023), Rasa (2022). Dia adalah aktor Benam Benih --Perjalanan Silam dan Hidup-- karya Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- yang dipentaskan di Bali 2023.

Nurul Inayah

Nurul Inayah adalah sutradara, penulis naskah, aktor, dan performer. Karya-karya Naya mempertanyakan ulang posisi perempuan di ruang publik dan domestik melalui perspektif mitos dan konstruksi sosial, serta menyoal isu kesehatan mental. Dia meraih fellowship program INSPIRASI oleh UnionAID New Zealand (2020–2023) untuk proyek pertunjukan teater mengenai depresi pascakelahiran di Indonesia dan sebagai kurator Festival Teater Indonesia (2025).

Pagi 21 Menit karya Shinta Febriany (2025) adalah karya penyutradaraannya. Aku Ingin Tidur Lelap (2025) merupakan karya performansnya yang berupaya memahami bencana banjir bukan hanya sebagai persoalan infrastruktur, tetapi juga kesehatan mental. Perempuan Bangunan (2022) merupakan karya performansnya yang menyoal kontestasi antara perempuan dan laki-laki dalam konteks pekerjaan publik sebagai pekerja bangunan.

Postpartum adalah naskahnya yang dipentaskan di Makassar, Takalar, Soppeng, Jakarta, dan Palu di rentang tahun 2022 hingga 2024. Naskah-naskahnya diterbitkan di Dramaturgi Rasa (Kalabuku, 2020), Pulih (Kalabuku, 2023), Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman (Kalabuku, 2025), dan Menggoreng Bawang Merah - Naskah Teater Pilihan Kalampuan 2021-2023 (Teroka, 2025).

Dwi Saputra Mario

Dwi Saputra Mario adalah performer dan juga bekerja sebagai penata grafis, artistik, dan multimedia. Alumni Actors Studio 2016 dan Magang Keaktoran 2017 ini tertarik dengan penciptaan karya melalui perspektif humaniora yang terwujud dalam Festival Lepas Batas, sebuah inisiatif untuk meningkatkan akses seni bagi penyandang disabilitas di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. “Matalantas” merupakan karya performansnya yang berupaya untuk mengadvokasi ketergangguan warga terhadap kilatan cahaya lampu elektronik agar jalan raya yang aman dan nyaman dapat terwujud. Dia terlibat Proyek Kota dalam Teater 2015-2025.

Saat ini, Rio bekerja sebagai Manajer Desain Grafis Kala Teater.

Muh Imran

Muh Imran adalah aktor, sutradara, serta penata artistik yang aktif berkarya bersama Kala Teater. Selain tampil di atas panggung, ia juga terlibat manajer panggung pada berbagai festival maupun tur pertunjukan lintas kota.
Ketertarikan artistiknya berangkat dari isu budaya dan lingkungan, terutama relasi manusia dengan ruang hidup dan perubahan sosial dalam masyarakat. Isu-isu tersebut kerap menjadi dasar eksplorasi dalam kerja teater yang ia lakukan.
Sebagai aktor, dia pernah tampil pada Pagi 21 Menit (2025) di Festival Pendek Jakarta, program Teater Masuk Pesantren melalui naskah Ceritalah! (2025), Benam Benih --Perjalanan Silam dan Hidup-- karya Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali, dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- yang dipentaskan di Bali 2023, Palu & Makassar 2024 dan Kendari 2025. Di bidang penyutradaraan, ia menyutradarai pementasan Prodo Imitatio dan Mutiara Pulau (2024). Sementara itu, ia juga terlibat sebagai penata set dan properti dalam monolog Belanja Citra (2024). Ia juga dipercaya sebagai Manajer Panggung dalam Festival Kala Monolog 2025.

Dwi Lestari Johan

Dwi Lestari Johan merupakan aktor, performer, dan penari yang telah tampil di berbagai kota di Indonesia. Karya-karyanya kerap menjadi ruang eksplorasi dan refleksi atas hubungan antarmanusia, tradisi, serta lingkungan sekitar.

Selama sepuluh tahun, Dwi terlibat dalam proyek Kota dalam Teater (2015–2025) sebagai aktor dan performer. Keterlibatan jangka panjang ini memperlihatkan praktik keaktorannya dalam kerja-kerja berbasis riset dan konteks kota. Ia juga terlibat sebagai aktor dalam pertunjukan Passompe – Perjalanan Melintas Batas Kesedihan –, karya sutradara Shinta Febriany, yang dipentaskan di Bali dalam Festival Bali Jani (2023), Makassar (2024), dan Kendari (2025). Selain itu, ia tampil sebagai aktor dalam pertunjukan Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup, karya sutradara Shinta Febriany, yang dipentaskan dalam program Indonesia Bertutur di Ubud, Bali (2024).

Performans Tubuh Terik (2025) menyoal perubahan iklim yang berdampak besar terhadap tubuh manusia, sementara Belanja Citra (2022) mengangkat persoalan tradisi Uang Panai’ dalam masyarakat Bugis dan Makassar yang dinilai tidak lagi relevan karena menimbulkan dampak ekonomi berkepanjangan. Performans tersebut kemudian dialihwahanakan menjadi monolog Belanja Citra yang dipentaskan di Makassar, Wajo, Bone, dan Sinjai (2024–2025).

Mega Herdiyanti

Mega Herdiyanti adalah seorang aktor dan performer yang dalam praktik artistiknya mengeksplorasi isu-isu sosial dengan fokus pada kesetaraan gender, khususnya terkait akses pendidikan, ruang publik, dan kepemimpinan perempuan.
Ia menggagas proyek monolog Mutiara Pulau, sebuah tur monolog yang menyoroti ketidakmerataan akses pendidikan bagi perempuan di tiga pulau di Kota Makassar. Karya performansnya Yang Kian Ditinggalkan (2022) mengangkat isu pengabaian terminal sebagai ruang publik sekaligus refleksi atas perubahan fungsi ruang kota. Karya lainnya, Tubuh yang Tak Pernah Dicatat (2024), menyoroti pengalaman perempuan pekerja sektor informal yang menghadapi stigma sosial, bias gender, serta keterbatasan perlindungan kerja.
Ia juga terlibat dalam sejumlah produksi teater, di antaranya Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup (2024) sutradara Shinta Febriany, Passompe – Perjalanan Melintas Batas Kesedihan – (2023) sutradara Shinta Febriany., Postpartum (2022) sutradara Nurul Inayah, serta Suara-Suara Gelap dari Ruang Dapur (2019) sutradara Shinta Febriany.
Mega juga bermain dalam film pendek dan terpilih sebagai Aktris Terbaik pada Festival Film Makassar (2023) serta meraih Monolog Terbaik I pada Festival Kala Monolog (2019).

Ilham Rahman

Ilham Rahman adalah aktor, alumni program Magang Keaktoran 2017, dan Studio Aktor Kala Teater 2018. Dia terlibat sejumlah produksi seni di bidang pencahayaan dan artistik. Dia mengikuti Pelatihan Tata Cahaya Pertunjukan oleh Azis Indriyanto 2024. Dia adalah penata cahaya untuk karya Suara-suara Gelap (Dari Ruang Dapur) yang dipentaskan di Lombok 2023 dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- yang dipentaskan di Bali 2023, Palu & Makassar 2024.

Athirah Nur

Athirah Nur merupakan aktor yang aktif berkarya dan terlibat dalam berbagai produksi pertunjukan Kala Teater di sejumlah kota di Indonesia. Ia adalah alumni Studio Aktor Kala Teater (2020) dan meraih penghargaan Monolog Terbaik II pada Festival Kala Monolog 2017 melalui pertunjukan Monolog Pengakuan.
Sebagai aktor, Athirah terlibat dalam pertunjukan Jangan Mati Sebelum Dia Tiba, Gila Orang Gila, dan Beri Aku Pantai yang Dulu yang dipentaskan di Palu (2024) dan Gorontalo (2025), serta Passompe – Perjalanan Melintas Batas Kesedihan –, karya sutradara Shinta Febriany, yang dipentaskan di Bali dalam Festival Bali Jani (2023), Makassar (2024), dan Kendari (2025). Ia juga tampil dalam pertunjukan Postpartum di Palu (2024), serta monolog Kisah Kirana (2023–2024).
Di luar perannya sebagai aktor, Athirah juga aktif menulis artikel pertunjukan, bekerja sebagai penata rias dan kostum, serta terlibat sebagai manajer produksi. Saat ini, ia mengelola Bekal Hidup, sebuah komunitas yang berfokus pada pengembangan literasi dan sastra.

Fathur Jacobus

Fathur Jacobus adalah performer dan alumni program Studio Aktor 2024 Kala Teater. Dia terlibat sejumlah produksi seni di bidang teater dan seni rupa. Dia adalah Penata Set dan Properti Proyek Kota Dalam Teater 2024 yang dipentaskan di Palu dan Gorontalo dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- 2024 yang dipentaskan di Palu & Makassar 2024 dan Kendari 2025. Karya performansnya “Kumuh yang Melintas-lintas” pada tahun 2025 yang menyoal dampak negatif permukiman kumuh terhadap warga.

Sabri Sahafuddin

Sabri Sahafuddin adalah aktor dan performer. Alumni program Studio Aktor 2020 Kala Teater ini terlibat Proyek Kota dalam Teater dan sejumlah produksi teater dan film. “Halang Jalan” merupakan karya performansnya di tahun 2022 yang menyoal tentang arogansi pengantar jenazah di Kota Makassar dan “Paksa Pasrah” merupakan karya performansnya di tahun 2025 yang menyoal tidak adanya hak jaminan kesehatan dan keselamatan kerja bagi buruh pabrik harian lepas. Dia adalah aktor “Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup” sutradara Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- di Bali 2023, Palu & Makassar 2024, dan Kendari 2025. Dia juga bekerja di manajemen seni pertunjukan.

Ahmad Dzulkifli Pratama Nur

Achmad Dzulkifli Pratama Nur atau yang akrab disapa Sulo merupakan aktor, penata multimedia, dan artistik di Kala Teater. Sulo adalah alumni program Studio Aktor Kala Teater 2024 yang memiliki ketertarikan pada isu sosial politik, masyarakat urban, serta kebudayaan lokal. Beberapa naskah yang pernah dimainkannya yakni Passompe’-- Perjalanan Melintas Batas Kesedihan – (2024) sutradara dan penulis naskah Shinta Febriany dan Pagi 21 Menit (2025) sutradara Nurul Inayah dan penulis naskah Shinta Febriany. Beberapa keterlibatannya sebagai penata yakni penata set dan properti Pagi 21 Menit (2025) dan penata multimedia Monolog Buku Kredit (2025) aktor Jamaluddin Latief.

Nurhafsa Hidayani

Nurhapsa Hidayani adalah aktor dan penulis naskah. Ia adalah alumni program Studio Aktor 2024 Kala Teater. Ia “Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup” sutradara Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali. Karya performansnya “Jejak Liar” menyoal tentang dampak juru parkir liar terhadap kenyamanan warga. Dia adalah ketua UKM Seni Romansa dan terlibat sejumlah produksi teater di sana.

Ahmad Amri Aliyyi

Ahmad Amri Aliyyi adalah alumni program Studio Aktor Kala Teater 2024. Alumni mahasiswa Jurusan Film dan Televisi di ISI Surakarta embrio ISBI Sulawesi Selatan 2024 ini juga aktif dalam dunia fotografer dan videografer serta bergabung dalam Shoot Photography Makassar sejak tahun 2021. Dia bekerja sebagai fotografer pada pertunjukan Kala Teater sejak 2022. Foto-fotonya dimuat dalam buku antologi naskah monolog “Pulih” (2023) dan buku biografi 17 tahun Kala Teater “Hidup Teater, Teater Hidup” (2023).