Seniman

Beri Aku Pantai yang Dulu, Gila Orang Gila, dan Jangan Mati Sebelum Dia Tiba merupakan tiga naskahnya yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan diterbitkan di buku New Indonesian Plays (Aurora Metro Books, London 2019). Buku puisinya Aku Bukan Masa Depan diterbitkan Bentang, 2003 dan Gambar Kesunyian di Jendela oleh Gramedia, 2017. Dia menjalani Residensi Penulis Indonesia di Inggris pada tahun 2018 atas dukungan Komite Buku Nasional dan sebagai kurator Festival Teater Indonesia 2025 dan kurator program Emerging Writers Ubud Writers & Readers Festival 2025.
Shinta adalah kurator dan penyunting buku Menggoreng Bawang Merah - Naskah Teater Pilihan Kalampuan 2021-2023 (bersama Brigitta Isabella dan Azhari Aiyub, Teroka, 2025), Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman (Kalabuku, 2025), Beribu Surat: Antologi Surat Feminis dari Indonesia (bersama Brigitta Isabella, Peretas, 2024), Pulih (Kalabuku, 2023), dan Hidup Teater, Teater Hidup: 17 Tahun Kala Teater (bersama Ibed S. Yuga, Kalabuku, 2023).

Dia terlibat proyek Kota dalam Teater dan telah pertunjukan di berbagai kota di Indonesia antara lain, Passompe – Perjalanan Melintas Batas Kesedihan –, karya sutradara Shinta Febriany, Makassar (2024) dan Kendari (2025). Selain itu, ia tampil sebagai aktor dalam pertunjukan Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup, karya sutradara Shinta Febriany, yang dipentaskan dalam program Indonesia Bertutur di Ubud, Bali (2024).
Naskahnya turut dalam kumpulan Menggoreng Bawang Merah - Naskah Teater Pilihan KalamPuan 2021-2023 (Teroka, 2025) dan Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman (Kalabuku, 2025).

Ia terlibat Proyek Kota dalam Teater yang dipentaskan di Makassar, Jakarta, dan Lombok serta sutradara pertunjukan Kisah Kirana (2024), Janji Senja (2023), Rasa (2022). Dia adalah aktor Benam Benih --Perjalanan Silam dan Hidup-- karya Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- yang dipentaskan di Bali 2023.

Pagi 21 Menit karya Shinta Febriany (2025) adalah karya penyutradaraannya. Aku Ingin Tidur Lelap (2025) merupakan karya performansnya yang berupaya memahami bencana banjir bukan hanya sebagai persoalan infrastruktur, tetapi juga kesehatan mental. Perempuan Bangunan (2022) merupakan karya performansnya yang menyoal kontestasi antara perempuan dan laki-laki dalam konteks pekerjaan publik sebagai pekerja bangunan.
Postpartum adalah naskahnya yang dipentaskan di Makassar, Takalar, Soppeng, Jakarta, dan Palu di rentang tahun 2022 hingga 2024. Naskah-naskahnya diterbitkan di Dramaturgi Rasa (Kalabuku, 2020), Pulih (Kalabuku, 2023), Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman (Kalabuku, 2025), dan Menggoreng Bawang Merah - Naskah Teater Pilihan Kalampuan 2021-2023 (Teroka, 2025).

Saat ini, Rio bekerja sebagai Manajer Desain Grafis Kala Teater.

Ketertarikan artistiknya berangkat dari isu budaya dan lingkungan, terutama relasi manusia dengan ruang hidup dan perubahan sosial dalam masyarakat. Isu-isu tersebut kerap menjadi dasar eksplorasi dalam kerja teater yang ia lakukan.
Sebagai aktor, dia pernah tampil pada Pagi 21 Menit (2025) di Festival Pendek Jakarta, program Teater Masuk Pesantren melalui naskah Ceritalah! (2025), Benam Benih --Perjalanan Silam dan Hidup-- karya Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali, dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- yang dipentaskan di Bali 2023, Palu & Makassar 2024 dan Kendari 2025. Di bidang penyutradaraan, ia menyutradarai pementasan Prodo Imitatio dan Mutiara Pulau (2024). Sementara itu, ia juga terlibat sebagai penata set dan properti dalam monolog Belanja Citra (2024). Ia juga dipercaya sebagai Manajer Panggung dalam Festival Kala Monolog 2025.

Selama sepuluh tahun, Dwi terlibat dalam proyek Kota dalam Teater (2015–2025) sebagai aktor dan performer. Keterlibatan jangka panjang ini memperlihatkan praktik keaktorannya dalam kerja-kerja berbasis riset dan konteks kota. Ia juga terlibat sebagai aktor dalam pertunjukan Passompe – Perjalanan Melintas Batas Kesedihan –, karya sutradara Shinta Febriany, yang dipentaskan di Bali dalam Festival Bali Jani (2023), Makassar (2024), dan Kendari (2025). Selain itu, ia tampil sebagai aktor dalam pertunjukan Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup, karya sutradara Shinta Febriany, yang dipentaskan dalam program Indonesia Bertutur di Ubud, Bali (2024).
Performans Tubuh Terik (2025) menyoal perubahan iklim yang berdampak besar terhadap tubuh manusia, sementara Belanja Citra (2022) mengangkat persoalan tradisi Uang Panai’ dalam masyarakat Bugis dan Makassar yang dinilai tidak lagi relevan karena menimbulkan dampak ekonomi berkepanjangan. Performans tersebut kemudian dialihwahanakan menjadi monolog Belanja Citra yang dipentaskan di Makassar, Wajo, Bone, dan Sinjai (2024–2025).

Ia menggagas proyek monolog Mutiara Pulau, sebuah tur monolog yang menyoroti ketidakmerataan akses pendidikan bagi perempuan di tiga pulau di Kota Makassar. Karya performansnya Yang Kian Ditinggalkan (2022) mengangkat isu pengabaian terminal sebagai ruang publik sekaligus refleksi atas perubahan fungsi ruang kota. Karya lainnya, Tubuh yang Tak Pernah Dicatat (2024), menyoroti pengalaman perempuan pekerja sektor informal yang menghadapi stigma sosial, bias gender, serta keterbatasan perlindungan kerja.
Ia juga terlibat dalam sejumlah produksi teater, di antaranya Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup (2024) sutradara Shinta Febriany, Passompe – Perjalanan Melintas Batas Kesedihan – (2023) sutradara Shinta Febriany., Postpartum (2022) sutradara Nurul Inayah, serta Suara-Suara Gelap dari Ruang Dapur (2019) sutradara Shinta Febriany.
Mega juga bermain dalam film pendek dan terpilih sebagai Aktris Terbaik pada Festival Film Makassar (2023) serta meraih Monolog Terbaik I pada Festival Kala Monolog (2019).


Sebagai aktor, Athirah terlibat dalam pertunjukan Jangan Mati Sebelum Dia Tiba, Gila Orang Gila, dan Beri Aku Pantai yang Dulu yang dipentaskan di Palu (2024) dan Gorontalo (2025), serta Passompe – Perjalanan Melintas Batas Kesedihan –, karya sutradara Shinta Febriany, yang dipentaskan di Bali dalam Festival Bali Jani (2023), Makassar (2024), dan Kendari (2025). Ia juga tampil dalam pertunjukan Postpartum di Palu (2024), serta monolog Kisah Kirana (2023–2024).
Di luar perannya sebagai aktor, Athirah juga aktif menulis artikel pertunjukan, bekerja sebagai penata rias dan kostum, serta terlibat sebagai manajer produksi. Saat ini, ia mengelola Bekal Hidup, sebuah komunitas yang berfokus pada pengembangan literasi dan sastra.




