Skip to main content
Bicara Karya – Adegan I

Selama Laut Masih Bergelombang

Selama Laut Masih Bergelombang adalah kumpulan puisi Mariati Atkah yang terbit tahun ini. Mariati adalah salah satu kolaborator karya proyek Kota dalam Teater melalui puisinya Setangkai Tubuh Kota (yang termuat dalam buku tersebut) dan Festival Kala Monolog melalui naskah monolognya. Dua program tersebut merupakan program kolaborasi lintas disiplin yang digagas Kala Teater. Bicara Karya merupakan program membicarakan proses penciptaan karya seniman dari berbagai disiplin seni. Program ini diinisiasi sebagai ruang untuk mendokumentasikan pemikiran seniman beserta karya ciptanya.

Bicara Karya – Adegan II

The Unremembered

The Unremembered merupakan film dokumenter yang disutradarai Ika Mahardika, filmmaker yang beberapa karyanya telah diapresiasi publik. The Unremembered diniatkan sebagai tribute kepada Charlotte Salawati, tokoh penting Indonesia yang dilupakan. Penelusuran terhadap kiprah Charlotte Salawati diinisiasi oleh Shinta Febriany di tahun 2018 yang sementara riset ketika itu, yang kemudian mengajak Ika dan dengan dukungan Loneliness Project, Rumata’ Artspace, dan Norwegian Embassy membuat film dokumenter The Unremembered.

Bicara Karya – Adegan III

Limen

Limen merupakan karya tari Fitrya Ali Imran, penari dan koreografer asal kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Limen termasuk dalam 40 karya terpilih ‘Distance Parade’ yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Yayasan Seni Tari Indonesia. ‘Bukan di luar, bukan pula di dalam, ia di ambang seperti pintu, sebagai saksi keintiman tubuh dengan ruang’. Apa yang ingin disampaikan Fitrya Ali Imran melalui karya Limen? Mari simak pembicaraannya.

Bicara Karya – Adegan IV

Derau ke Pukau

Derau ke Pukau merupakan buku karya Harnita Rahman, seorang pegiat literasi dan penulis kelahiran Watampone, Sulawesi Selatan. Derau ke Pukau adalah buku pertamanya yang ia terbitkan. Derau ke Pukau menceritakan proses menjadi keluarga dan orang-orang di dalamnya sebagai ruang belajar dan ruang bertumbuh. Ruang sosial pertama yang sejatinya mengajarkan semua manusia di dalamnya untuk setara, terbuka, dan bekerja sama.

Play Video
Bicara Karya – Adegan V

Lipstik yang Berdarah

Risya Marennu adalah penulis dan pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin. Ia bergabung dengan Puan Seni (Perkumpulan Jaringan Seni Perempuan) dan Km10 School. Selain menulis cerpen, ia juga menulis puisi. Buku kumpulan cerpen ‘Lipstik yang Berdarah’ adalah buku perdananya. Buku Lipstik yang Berdarah lahir dari konsep sejarah kehidupan tokoh perempuan dari Sulawesi Selatan dengan alur cerita mengolaborasi masa kolonial dan masa kini yang dibalut dengan asmaraloka. Semua tokoh dalam sembilan cerpen ini menghadirkan  perempuan dengan berbagai karakter dan sekelimut kisah kehidupannya. Proses menulis buku kumpulan cerpen ini selama sembilan bulan dibantu dengan beberapa referensi untuk melakukan riset.

Play Video
Bicara Karya – Adegan VI

Kunjungan Singkat ke Rumah

Alghifahri Jasin yang akrab disapa Agi adalah seorang penulis yang mengasah kemampuan menulisnya di Institut Sastra Makassar. Ia adalah alumni Fakultas Ilmu Budaya, Departemen Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin. Kunjungan Singkat ke Rumah merupakan buku puisi perdananya. ‘Peristiwa emosional yang pertama saya rasa adalah rumah. Ketika kanak-kanak saya berpindah rumah sebanyak tiga kali. Kepindahan itu merupakan hasil keputusan orang tua saya. Mengemasi baju, barang, dan diri sendiri menjadi akrab di mata kecil saya. Kepindahan ketiga dilatari oleh perpisahan kedua orang tua. Sejak itu, rumah ketiga menjadi masa tumbuh saya paling panjang di antara kedua rumah sebelumnya’. Apa yang ingin disampaikan Alghifahri Jasin melalui karyanya?

Play Video
Bicara Karya – Adegan VII

Memasihkan yang Pernah

Aan Mansyur bekerja sebagai penulis, editor, dan penerjemah. Beberapa karya bukunya, antara lain: Kukila (2012), Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014), Melihat Api Bekerja (2015), Tidak Ada New York Hari Ini (2016), Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (2020), Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu (2021). Ia mendapatkan beasiswa dari Komite Buku Nasional untuk residensi penulis di Krakow, Polandia pada 2017, menerima penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2021, dan Anugerah Sastra Kementerian, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021.

Memasihkan yang Pernah merupakan karya terbaru Aan Mansyur yang berisi serangkaian kartu, foto, dan puisi, yang bisa digunakan untuk bermain dan menikmati keindahan sederhana dari percakapan. Permainan poetography ini merupakan eksperimen untuk mengamati dan mengalami hubungan dan tegangan antara citra visual dan citra verbal; usaha sederhana untuk mempercakapkan diri manusia kita dengan dunia di sekitarnya; upaya kecil untuk menghadirkan pada saat bersamaan pameran foto dan pementasan puisi di ruang-ruang yang lebih terbuka dan setara.

Bicara Karya – Adegan VIII

Beribu Surat; Antologi Surat Feminis
dari Indonesia

Beribu Surat; Antologi Surat Feminis dari Indonesia diterbitkan Peretas memuat 52 surat yang menyingkap, mendebarkan, melintasi, menautkan, mendekap, membentangkan, dan menyerukan berbagai pengetahuan feminis dari Indonesia.

Dari korespondensi di surat kabar awal abad ke-20 hingga sirkulasi surel di milis internet; dari arsip keluarga hingga sastra epistolari mereka menawarkan pembelajaran feminis yang bersumber dari sejarah, pengalaman sehari-hari, serta kerja imajinasi.

Dari surat-surat ini kita dapat belajar bersuara, menyatakan pikiran, dan perasaan menyusun siasat bertahan hidup, menyembuhkan luka, mengorganisir solidaritasi, serta masih banyak lagi.

Bicara Karya – Adegan IX

Bicara karya bersama Aziz Azthar, Sari Setyorini, Nirwana Aprianty, dan Athirah Nur.

Bicara Karya menghadirkan para penulis yang berbagi cerita tentang proses kreatif di balik karya naskah-naskah monolog yang akan dipentaskan pada Festival Kala Monolog 2025: Alé Lino.

Bicara karya akan membicarakan proses kreatif naskah Bioskop Sudah Tutup karya Aziz Azthar dan Gudeg Nanik karya Sari Setyorini, dan Badut Kota karya Nirwana Aprianty, bersama Athirah Nur, Aktor dan Penulis.

Bioskop Sudah Tutup
Di depan bioskop tua di Bukittinggi yang kini ditutup, Eri membuka kembali kenangan bersama mama dan neneknya. Cinta mama pada film yang tersembunyi di balik stigma agama dan budaya terungkap lewat buku hariannya. Bioskop itu menjadi simbol trauma, cinta, dan identitas yang tak berakhir. Bioskop Sudah Tutup adalah cerita perihal warisan ingatan yang terus hidup meski layar telah padam.

Gudeg Nanik
Seruni, perempuan 38 tahun, pulang ke Yogyakarta setelah lama meninggalkan rumah. Di peron stasiun, ia membuka kembali luka dan kenangan bersama ibunya, Nanik, pengusaha gudeg yang tangguh tapi terikat tradisi patriarki. Surat terakhir sang ibu menjadi pintu bagi Seruni untuk menemukan ruang berdamai dengan masa lalu, meneguhkan pilihannya sebagai perempuan yang bebas menentukan arah hidup. 

Badut Kota
Annisa, remaja 15 tahun, mencari nafkah di jalanan sembari menutupi luka hidup dengan canda dan rayuan. Di balik tawanya tersimpan kisah putus sekolah, tekanan keluarga, dan trauma yang membekas. Badut Kota menyibak wajah kota yang bengis, tempat warganya dijadikan tontonan, dan tak pernah sungguh-sungguh didengar.

Bicara Karya – Adegan X

Bicara karya bersama Rizal Iwan, Yessy Natalia, dan Sukarno Hatta.

Bicara Karya menghadirkan para penulis yang berbagi cerita tentang proses kreatif di balik karya naskah-naskah monolog yang akan dipentaskan pada Festival Kala Monolog 2025: Alé Lino.

Bicara karya akan membicarakan proses kreatif naskah Hukum Mencuci Piring karya Rizal Iwan dan Lubang karya Yessy Natalia bersama Sukarno Hatta, Aktor dan Sutradara.

Hukum Mencuci Piring
Seorang laki-laki muda bekerja sebagai asisten di klinik aborsi ilegal. Sembari mencuci piring ia menyingkap rahasia hidupnya. Dimulai dari ingatan masa kecil hingga trauma bersama ibunya, ia menuturkan humor getir, luka, dan amarah yang tak jua reda. Hukum Mencuci Piring menciptakan metafora; Selalu ada sisa kotoran yang tak pernah benar-benar hilang, sebagaimana dosa dan ingatan dalam hidup.

Lubang
Ekawira dan istrinya, Narti, hidup dalam kemiskinan Karawang dengan sebuah lubang besar di jalan depan kos mereka. Lubang itu memberi keuntungan tapi juga merampas harapan, menyebabkan Ekawira berambisi jadi wakil rakyat. Perjuangannya menyisakan kekecewaan dan kehilangan. Rumah tangga yang runtuh, cinta yang hancur, dan kematian tragis. Narti adalah pahit hidup yang harus dia reguk. Lubang menjelma metafora pahit tentang harapan yang tergadai dan janji kuasa yang menumpuk luka rakyat.

Bicara Karya – Adegan XI

Bicara karya bersama Angelina Enny, Nurul Inayah, dan Muh Imran.

Bicara Karya menghadirkan para penulis yang berbagi cerita tentang proses kreatif di balik karya naskah-naskah monolog yang akan dipentaskan pada Festival Kala Monolog 2025: Alé Lino.

Bicara karya akan membicarakan proses kreatif naskah Perempuan yang Disunyikan Takdir karya Angelina Enny dan Makan Siang dengan Tenang karya Nurul Inayah bersama Muh. Imran, Aktor dan Sutradara.

Perempuan yang Disunyikan Takdir
Marni, perempuan Jawa kelahiran 1945, menanggung luka sejarah akibat tragedi 1965. Ia kehilangan suami, anak, dan identitasnya. Ia hidup dalam stigma sebagai eks-Gerwani. Di usia senja, ia menuturkan kisahnya, hidup di antara kenangan domestik, mitos, dan trauma. Ini adalah upayanya melawan sunyi dan menitipkan suara kepada generasi setelahnya.

Makan Siang dengan Tenang
Jamila, buruh bangunan perempuan, menciptakan makan siang sebagai ruang kecil untuk berkisah tentang hidupnya, dari kampung Kajang hingga kerasnya dunia konstruksi. Ia berbagi kisah cinta, kehilangan, dan diskriminasi upah yang menyerang buruh perempuan. Jamila bertahan sembari memanggul luka, menjadikan makan siang sebagai simbol harkat dan harapan akan keadilan.

Bicara Karya – Adegan XII

Bicara karya Aktor FKM 2025.

Bicara Karya menghadirkan para aktor untuk berbagi cerita tentang proses kreatif di balik karya pertunjukan monolog yang telah dipentaskan pada Festival Kala Monolog 2025: Alé Lino.

Bicara karya bersama Santi Dewi, Syam Ancoe Amar, Ismatul Rahmi, Jamaluddin Latif, Ismaya Priska Kumala, Muh. Yusuf Rahim, Sabila Bahana Jagad, Beben MC, Aziz Azthar, Emma Hamzah, Wa Ode Siti Sabania, dan Nurul Inayah.