
Proyek Kota dalam Teater atau City in Theatre project yang merupakan proyek pembacaan isu-isu kota melalui riset terhadap warga kota. Proyek berdurasi 10 tahun ini digagas Kala Teater sejak tahun 2015 hingga tahun 2025.
Tahun 2025 KdT telah melakukan riset menyoal topik Ketergangguan Mental Warga Akibat Bencana Banjir, Dampak Perubahan Cuaca Ekstrim terhadap Kondisi Tubuh, Diskriminasi terhadap Perempuan Pekerja Ojek Online, Tidak Adanya Hak Jaminan Kesehatan dan Keselamatan Kerja bagi Buruh Pabrik Harian Lepas, Dampak Negatif Lampu Tilang Elektronik terhadap Pengendara, Dampak Juru Parkir Liar terhadap Ketidaknyamanan Warga, Dampak Negatif Permukiman Kumuh, dan Perilaku Pengemudi Pete-pete yang Memberi Rasa Tidak Aman Berkendara.








Diawali dengan laboratorium para performer melakukan studi karya performans, diskusi, mendengar ceramah dari para ahli, merumuskan gagasan tematik dan artistik, workshop, dan presentasi karya-sedang-tumbuh serta melakukan riset terhadap warga kota. Hasilnya adalah delapan perfomans, yaitu Matalantas oleh Dwi Saputra Mario, Paksa Pasrah oleh Sabri Sahafuddin, Aku Ingin Tidur Lelap oleh Nurul Inayah, Kumuh yang Melintas-lintas oleh Fathur Rahman, Jejak Liar oleh Nurhafsa Hidayani, Beri Kami Selamat oleh Fitrya Ali Imran, Tubuh yang Tak Pernah Dicatat oleh Mega Herdianti, dan Tubuh Terik oleh Dwi Lestari Johan.
Proyek Kota dalam Teater 2025 mempersembahkan seri performans oleh 8 performer di 11 ruang komunitas dan ruang publik berbeda.
Satu dekade proyek Kota dalam Teater (KdT) hendak mengklaim kembali ruang publik kota sebagai ruang hidup bersama, juga ruang komunitas sebagai ruang solidaritas.
Kota yang baik adalah kota yang melibatkan partisipasi warga. Warga yang baik adalah warga yang berpartisipasi terhadap kemajuan kota. Mari bersama membangun Makassar tercinta.diskusi konstruktif di kalangan masyarakat Makassar mengenai tantangan yang dihadapi kota mereka.