Skip to main content

Seniman

Shinta Febriany

Shinta Febriany bekerja sebagai sutradara, penulis, dramaturg, dan penyair. Karya-karya Shinta dikenal karena menantang stereotip gender, mengeksplorasi ketubuhan, dan meneliti masalah perkotaan kontemporer. Atas dedikasinya di bidang teater dia dianugerahi penghargaan Celebes Award dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (2007) dan Gau’ Maraja Award dari Badan Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan (2020).

Bersama Kala Teater Shinta menggagas proyek Kota dalam Teater, proyek pembacaan isu-isu kota berdasarkan riset terhadap warga kota berdurasi sepuluh tahun (2015-2025). Hasil riset diterjemahkan ke pertunjukan teater dan performance art yang dipentaskan di Makassar, Jakarta, Lombok, Bali, Palu, Kendari, dan Gorontalo. Beri Aku Pantai yang Dulu, Gila Orang Gila, dan Jangan Mati Sebelum Dia Tiba merupakan 3 naskahnya di proyek Kota dalam Teater diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Alfian Sa'at dan turut di kumpulan New Indonesian Plays terbitan Aurora Metro Books, London 2019.

Shinta juga bekerja sebagai Direktur Artistik Kala Teater dan Ketua Umum Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (Penastri).

Nirwana Aprianty

Nirwana Aprianty adalah aktor di Kala Teater sejak tahun 2015. Sebelumnya dia bergiat di Lentera FBS UNM sebagai aktor dan sutradara. Beberapa pengalamannya sebagai aktor yakni di pertunjukan Jalan Raya Petaka, Sampah dan Kegaduhan Kata-kata, Ancaman di Musim Hujan (2015), Jangan Mati Sebelum Dia Tiba, Gila Orang Gila, Beri Aku Pantai yang Dulu (2017) dan dipentaskan pula pada Pekan Teater Nasional di Jakarta (2018), Suara-suara Gelap (dari ruang dapur) yang dipentaskan pula pada Djakarta Theatre Platform di Jakarta (2019), Waktu Tanpa Buku karya Lene Therese Teigen terjemahan Faiza Mardzoeki (2020), yang disutradarai oleh Shinta Febriany, Di Balik Sinar Suram (2021) sutradara Dwi Sastra Mario.

Ia masuk dalam nominasi aktris terbaik pada Festival Teater Mahasiswa Indonesia (2015) dan pada tahun 2021 ia terpilih sebagai aktris terbaik dalam Festival Film Makassar. Wana juga bermain sebagai aktor di beberapa produksi film pendek di Makassar.

Aktor

Sukarno Hatta

Sukarno Hatta adalah aktor dan sutradara yang merupakan alumni program Studio Aktor 2018 Kala Teater. Terlibat Proyek Kota dalam Teater yang dipentaskan di Makassar, Jakarta, dan Lombok serta sutradara pertunjukan Kisah Kirana (2024), Janji Senja (2023), Rasa (2022). Dia adalah aktor Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- yang dipentaskan di Bali 2023. Saat ini bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah swasta.

Nurul Inayah

Nurul Inayah adalah sutradara, aktor, penulis naskah, dan performer. Karya-karya Naya mempertanyakan ulang posisi perempuan di ruang publik dan domestik dari perspektif mitos lokal dan konstruksi sosial, serta menyoal isu kesehatan mental melalui pendekatan pengalaman personal dan sosial.

Naya merupakan alumni Workshop Keaktoran Kala Teater (2010), program KalamPuan Penastri (2022), Kelas Bedah Naskah oleh Joned Suryatmoko (2023), serta peserta Yokohama International Performing Arts Meetings (2023). Naya meraih Monolog Terbaik III pada Festival Kala Monolog (2010), peraih fellowship program INSPIRASI oleh UnionAID New Zealand (2020–2023) untuk proyek pertunjukan teater mengenai depresi pascakelahiran di Indonesia, dan kurator Festival Teater Indonesia (2025). Naskah-naskahnya diterbitkan dalam _Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman_ (2025), _Pulih_ (2023), dan _Dramaturgi Rasa_ (2020).

_Perempuan Bangunan_ merupakan karya performansnya yang menyoal kontestasi antara perempuan dan laki-laki dalam konteks pekerjaan publik sebagai pekerja bangunan, sementara _Aku Ingin Tidur Lelap_ berupaya memahami bencana banjir bukan hanya sebagai persoalan infrastruktur, tetapi juga kesehatan mental. Ia juga merupakan sutradara dan penulis naskah _Postpartum_ yang telah dipentaskan di Makassar (2022), Takalar (2023), Soppeng (2023), Jakarta (2023), dan Palu (2024), serta sutradara Pagi 21 Menit karya Shinta Febriany (2025).

Saat ini Naya bekerja sebagai Manajer Program Kala Teater.

Dwi Saputra Mario

Dwi Saputra Mario bekerja sebagai sutradara, penata grafis, artistik, dan penata multimedia. Alumni program Magang Keaktoran 2017 dan Studio Aktor Kala Teater 2018 ini menggagas Festival Lepas Batas: Seni Pertunjukan Disabilitas, yang mengintervensi inklusivitas akses seni bagi penyandang disabilitas di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. “Matalantas” merupakan karya performansnya yang berupaya untuk mengadvokasi ketergangguan warga terhadap kilatan cahaya lampu elektornik agar jalan raya yang aman dan nyaman dapat terwujud. Dia terlibat Proyek Kota dalam Teater 2015-2025.

Muh Imran

Muh Imran adalah aktor dan alumni program Magang Keaktoran 2017 dan Studio Aktor 2018. Dia meraih penghargaan Aktor Utama Pria Terbaik di Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XII di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dia menjadi aktor pada Benam Benih --Perjalanan Silam dan Hidup-- karya Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- yang dipentaskan di Bali 2023, Palu & Makassar 2024 dan Kendari 2025.

Dwi Lestari Johan

Dwi Lestari Johan menjadi aktor di Kala Teater sejak tahun 2011. Sebelumnya dia aktif di Lentera FBS UNM. Dwi juga adalah penari di Sanggar Alam Serang Dakko dan pendiri Sanggar Seni Sipakainge. Pengalamannya sebagai aktor, antara lain di pertunjukan Kapai Kapai naskah Arifin C Noer (2012), 10 Adegan dari Politik yang Membunuh (2014) naskah Shinta Febriany, kolaborasi Vessel for Stories (2015), Jalan Raya Petaka, Sampah dan Kegaduhan Kata-kata, Ancaman di Musim Hujan (2015), kolaborasi Echoes of Asia bersama Ya Ling Peng (2016), Jangan Mati Sebelum Dia Tiba, Gila Orang Gila, Beri Aku Pantai yang Dulu (2017) dan dipentaskan pula pada PekanTeater Nasional di Jakarta (2018), Suara-suara Gelap (dari ruang dapur) yang dipentaskan pula pada Djakarta Theatre Platform di Jakarta (2019), Waktu Tanpa Buku karya Lene Therese Teigen terjemahan Faiza Mardzoeki sutradara Shinta Febriany (2020), dan Pagi 21 Menit sutradara Nurul Inayah (2021).

Dia mengikuti Workshop Keaktoran Kala Teater (2011), Workshop Daya Hadir dan Ketubuhan oleh Melati Suryodarmo di Padang (2016), dan Workshop Keaktoran bersama Ari Dwianto (2018). Dwi juga bermain sebagai aktor di beberapa produksi film pendek di Makassar.

Mega Herdiyanti

Mega Herdiyanti adalah aktor dan performer. Dia menggagas program Monolog Mutiara Pulau, proyek monolog keliling yang menyoal isu ketidakmerataan akses pendidikan perempuan di 3 pulau di Kota Makassar yang bertujuan membangun ruang kritis, kreativitas, dan kemandirian remaja perempuan di 3 pulau tersebut. “Yang Kian Ditinggalkan” merupakan karya performansnya di tahun 2022 yang menyoal pengabaian terminal sebagai ruang publik dan “Tubuh yang Tidak Pernah Dicatat” merupakan karya performansnya di tahun 2025 yang mempertanyakan tentang bagaimana perempuan pengemudi ojek melawan stigma sosial, ketidakadilan gender, dan risiko keselamatan dalam dunia kerja yang maskulin. Dia menjadi aktor pada Benam Benih --Perjalanan Silam dan Hidup-- karya Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali. Dia meraih Monolog Terbaik II pada Festival Kala Monolog 2019 dan penghargaan Aktris Terbaik Festival Film Makassar 2023. Alumni program Studio Aktor 2018 ini bekerja sebagai digital strategist di sebuah organisasi nirlaba.

Ilham Rahman

Ilham Rahman adalah aktor, alumni program Magang Keaktoran 2017, dan Studio Aktor Kala Teater 2018. Dia terlibat sejumlah produksi seni di bidang pencahayaan dan artistik. Dia mengikuti Pelatihan Tata Cahaya Pertunjukan oleh Azis Indriyanto 2024. Dia adalah penata cahaya untuk karya Suara-suara Gelap (Dari Ruang Dapur) yang dipentaskan di Lombok 2023 dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- yang dipentaskan di Bali 2023, Palu & Makassar 2024.

Athirah Nur

Athirah Nur adalah aktor yang meraih Monolog Terbaik II pada Festival Kala Monolog 2017. Ia adalah aktor pada pertunjukan Kisah Kirana Makassar (2023 & 2024) dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- di Bali 2023, Palu & Makassar 2024, dan Kendari 2025. Saat ini dia menempuh pendidikan magister di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin dan bekerja sebagai pengajar di sekolah swasta Makassar.

Fathur Jacobus

Fathur Jacobus adalah performer dan alumni program Studio Aktor 2024 Kala Teater. Dia terlibat sejumlah produksi seni di bidang teater dan seni rupa. Dia adalah Penata Set dan Properti Proyek Kota Dalam Teater 2024 yang dipentaskan di Palu dan Gorontalo dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- 2024 yang dipentaskan di Palu & Makassar 2024 dan Kendari 2025. Karya performansnya “Kumuh yang Melintas-lintas” pada tahun 2025 yang menyoal dampak negatif permukiman kumuh terhadap warga.

Sabri Sahafuddin

Sabri Sahafuddin adalah aktor dan performer. Alumni program Studio Aktor 2020 Kala Teater ini terlibat Proyek Kota dalam Teater dan sejumlah produksi teater dan film. “Halang Jalan” merupakan karya performansnya di tahun 2022 yang menyoal tentang arogansi pengantar jenazah di Kota Makassar dan “Paksa Pasrah” merupakan karya performansnya di tahun 2025 yang menyoal tidak adanya hak jaminan kesehatan dan keselamatan kerja bagi buruh pabrik harian lepas. Dia adalah aktor “Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup” sutradara Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali dan Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- di Bali 2023, Palu & Makassar 2024, dan Kendari 2025. Dia juga bekerja di manajemen seni pertunjukan.

Ahmad Dzulkifli Pratama Nur

Ahmad Dzulkifli Pratama Nur mulai aktif berkesenian di Komunitas Seni Adab UIN Alauddin Makassar. Dia adalah alumni program Studio Aktor Kala Teater 2024. Dia adalah aktor Passompe’ --Perjalanan Melintas Batas Kesedihan-- di Palu & Makassar 2024.

Nurhafsa Hidayani

Nurhafsa Hidayani adalah aktor dan alumni program Studio Aktor 2024 Kala Teater. Dia adalah aktor “Benam Benih: Perjalanan Silam dan Hidup” sutradara Shinta Febriany pada Indonesia Bertutur 2024 di Ubud, Bali. Karya performansnya “Jejak Liar” menyoal tentang dampak juru parkir liar terhadap kenyamanan warga. Dia adalah ketua UKM Seni Romansa dan terlibat sejumlah produksi teater di sana.

Ahmad Amri Aliyyi

Ahmad Amri Aliyyi adalah alumni program Studio Aktor Kala Teater 2024. Alumni mahasiswa Jurusan Film dan Televisi di ISI Surakarta embrio ISBI Sulawesi Selatan 2024 ini juga aktif dalam dunia fotografer dan videografer serta bergabung dalam Shoot Photography Makassar sejak tahun 2021. Dia bekerja sebagai fotografer pada pertunjukan Kala Teater sejak 2022. Foto-fotonya dimuat dalam buku antologi naskah monolog “Pulih” (2023) dan buku biografi 17 tahun Kala Teater “Hidup Teater, Teater Hidup” (2023).