Seniman

Bersama Kala Teater Shinta menggagas proyek Kota dalam Teater, proyek pembacaan isu-isu kota berdasarkan riset terhadap warga kota berdurasi sepuluh tahun (2015-2025). Hasil riset diterjemahkan ke pertunjukan teater dan performance art yang dipentaskan di Makassar, Jakarta, Lombok, Bali, Palu, Kendari, dan Gorontalo. Beri Aku Pantai yang Dulu, Gila Orang Gila, dan Jangan Mati Sebelum Dia Tiba merupakan 3 naskahnya di proyek Kota dalam Teater diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Alfian Sa'at dan turut di kumpulan New Indonesian Plays terbitan Aurora Metro Books, London 2019.
Shinta juga bekerja sebagai Direktur Artistik Kala Teater dan Ketua Umum Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (Penastri).

Ia masuk dalam nominasi aktris terbaik pada Festival Teater Mahasiswa Indonesia (2015) dan pada tahun 2021 ia terpilih sebagai aktris terbaik dalam Festival Film Makassar. Wana juga bermain sebagai aktor di beberapa produksi film pendek di Makassar.


Naya merupakan alumni Workshop Keaktoran Kala Teater (2010), program KalamPuan Penastri (2022), Kelas Bedah Naskah oleh Joned Suryatmoko (2023), serta peserta Yokohama International Performing Arts Meetings (2023). Naya meraih Monolog Terbaik III pada Festival Kala Monolog (2010), peraih fellowship program INSPIRASI oleh UnionAID New Zealand (2020–2023) untuk proyek pertunjukan teater mengenai depresi pascakelahiran di Indonesia, dan kurator Festival Teater Indonesia (2025). Naskah-naskahnya diterbitkan dalam _Antologi Kota: Ingatan dan Ancaman_ (2025), _Pulih_ (2023), dan _Dramaturgi Rasa_ (2020).
_Perempuan Bangunan_ merupakan karya performansnya yang menyoal kontestasi antara perempuan dan laki-laki dalam konteks pekerjaan publik sebagai pekerja bangunan, sementara _Aku Ingin Tidur Lelap_ berupaya memahami bencana banjir bukan hanya sebagai persoalan infrastruktur, tetapi juga kesehatan mental. Ia juga merupakan sutradara dan penulis naskah _Postpartum_ yang telah dipentaskan di Makassar (2022), Takalar (2023), Soppeng (2023), Jakarta (2023), dan Palu (2024), serta sutradara Pagi 21 Menit karya Shinta Febriany (2025).
Saat ini Naya bekerja sebagai Manajer Program Kala Teater.



Dia mengikuti Workshop Keaktoran Kala Teater (2011), Workshop Daya Hadir dan Ketubuhan oleh Melati Suryodarmo di Padang (2016), dan Workshop Keaktoran bersama Ari Dwianto (2018). Dwi juga bermain sebagai aktor di beberapa produksi film pendek di Makassar.







