Skip to main content
Oleh : Ibed S. Yuga

Bagaimana teater membaca kota tempatnya hidup, berkarya, dan bertumbuh? Bagaimana pula sebuah kota memosisikan teater yang hidup di dalam dirinya?

ANTARA teater dan kota bukan hanya ada ikatan antara peristiwa dan tempatnya berlangsung. Bukan pula sekadar hubungan semacam organisme dengan habitatnya. Melebihi itu, teater dan kota adalah relasi hidup dalam kerangka dua ekosistem: ekosistem teater dan ekosistem kota. Namun, di Indonesia, sepertinya kondisi yang demikian adalah bayangan besar masa depan yang entah kapan.

Sebagian besar kota di Indonesia belum mengarahkan pertumbuhannya sebagai ekosistem yang adekuat bagi warga kota. Di Makassar, misalnya, kota yang kerap diposisikan sebagai kota terbesar kelima di Indonesia berdasar jumlah penduduk, berbagai isu saling paut dalam jalinan rantai ekosistem kota yang cukup rapuh. Sebagaimana jamak di kota-kota lainnya, Makassar dihidupi oleh kemacetan, kriminalitas, sampah, dan banjir. Sebagai kota pantai, Makassar dengan rakus melangkah melewati garis pantai melalui proyek perluasan lahan (kapitalisme) yang ambisius: reklamasi Pantai Losari. Isu-isu lain juga menerobos dinding-dinding pengaman kehidupan warga, seperti bunuh diri, gangguan jiwa, juga trauma perempuan.

Isu-isu yang berjalinan dalam kehidupan Makassar tersebut menyulut pembacaan Kala Teatersebagai teater yang berhabitat di kota itumelalui aksi riset dan pertunjukan bertajuk Proyek Kota dalam Teater. Proyek yang dirancang berjalan selama sepuluh tahun (2015–2025) ini menjadi sebentuk intervensi yang dilakukan teater terhadap kota di mana Kala Teater berhabitat. Teater melalui paradigma pergerakan mencoba menunaikan kewajiban dan haknya sebagai warga kota: menyuarakan aspirasi dan kritik. Teater sedang mencoba untuk tak hanya berkubang dengan isu-isu di dalam dirinya, tetapi membuat kubangan lebih besar dengan merengkuh ruang dan ekosistem yang lebih luas, di mana isu-dalam-diri dan isu-luar-diri saling berpaut seperti senyawa kimia.

Kota bukan tentang bangunannya, tapi tentang manusianya. Demikian sebuah konklusi riset Kala Teater yang dipresentasikan dalam Perangkap Kata-Kata, salah satu pertunjukan Proyek Kota dalam Teater di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar, akhir 2022. Dalam pertunjukan ini, manusia-manusia berkepala oven berceloteh tentang kebahagiaan, kebanggaan, keresahan, keberhasilan, dan identitas Kota Makassar. Celotehan mereka lebih mirip keluhan daripada ungkapan kebungahan atau kemujuran hidup dalam sebuah kota. Pertunjukan ini berangkat dari riset tentang perasaan dan pemikiran warga Makassar tentang kotanya: apa yang membuat bahagia, bangga, atau resah. Riset pertunjukan ini juga mencoba menggali suara warga tentang keberhasilan fasilitas publik dan apa/siapa yang menjadi identitas Makassar –yang dicanangkan perencana kotasebagai kota dunia.

Pertunjukan lainnya, Bunyi Warga, yang dipentaskan serangkai dengan Perangkap Kata-Kata, menghadirkan seorang ibu muda yang tengah memompa air susu dari dadanya. Bukan berpura-pura, si ibu muda benar-benar memompa air susunya dalam jarak begitu dekat dengan penonton. Suara mesin pompanya diamplifikasi bersamaan dengan citra Kota

Makassar yang sedang berpacu membangun berbagai megaproyek guna mengejar pertumbuhan ekonomi dan kapital. Suara mesin pompa air susu dengan seketika memberi denyut terhadap laju pertumbuhan pembangunan fisik kota yang kelihatannya sangat obsesif. Makassar tengah dicanangkan sebagai kota (bertaraf) dunia. Si ibu muda sesekali menyingkap kain penutup botol pompa sehingga penonton bisa melihat air susu mengalir-berdenyut ke dalamnya, seperti warga kota yang berebut ruang di tengah kota yang sibuk mengubah ruang-ruang alamiah menjadi ruang-ruang arsitektural yang masif dan angkuh. Di dalamnya, seorang ibu muda kehilangan ruang untuk menumbuhkan anaknya dengan alamiah.

Sejak 2015 hingga 2022, Proyek Kota dalam Teater telah mempresentasikan sepuluh pertunjukan yang dikerjakan oleh tim yang sama guna menjaga keberlanjutan dan keterlibatan dalam menggali suara-suara warga kota. Dalam menggali suara dari para responden (warga kota), Kala Teater lebih memprioritaskan keterlibatan warga perempuan dan gender lain –yang masih dimarginalkan. Dari sini bisa dibaca bagaimana strategi proyek ini menyisir dinding-dinding yang selama ini barangkali dibangun oleh perencana kota yang maskulin. Suara-suara mereka direkam dan diamplifikasi melalui strategi performatif.

Strategi performatif itu dilancarkan melalui bentuk-bentuk pertunjukan yang mobile dan mengalir dari satu ruang ke ruang yang lain. Bentuk semacam ini seakan menjadi miniatur dari pergerakan Kota Makassar dengan berbagai permasalahan yang berjibun di dalamnya. Dengan siasat dramaturgi teater dokumenter dari theatre of fact yang dikemukakan Sartre, Kala Teater menggunakan teater untuk membuka kembali ruang-ruang yang telah dikunci rapat oleh perencana kota, mencairkan lagi problem-problem yang telah dipetieskan.

Dengan memosisikan teater sebagai warga kota yang aktif dan kritis, Kala Teater sekaligus memosisikan kota (Makassar) sebagai bagian dari ekosistem teaternya melalui injeksi ide-ide yang mengintervensi alur pembangunan kota. Para perencana kota, yang kerap bekerja dengan nalar politis dan kapital, diintervensi dengan formula-formula imajinasi, kreativitas, dan keberdayaan yang dibangkitkan dari ruang-ruang kemanusiaan. Para perencana kota bisa membangun apa saja dengan kepentingan apa pun, tetapi teater bisa memberi tahu mereka tentang apa yang layak bagi kehidupan manusia-manusia kota.

Sumber: https://www.jawapos.com/minggu/01572914/kota-via-teater-teater-via-kota

Editor : Ilham Safutra

Leave a Reply