Skip to main content

Mala Jiwa

Penonton yang baik,

Saya ingin sekelumit bercerita tentang gagasan yang melandasi karya teater ‘mala jiwa’. Saya berharap catatan ini dapat menjadi bekal anda sekalian dalam perjalanan menafsir teater ini.

Depresi adalah isu yang memicu terciptanya karya teater ini. Mengapa depresi? Sebab depresi adalah representasi kekinian kita. Kita kian rentan mengidap depresi. Sejumlah kejadian destruktif di sekitar kita amat memungkinkan keputusasaan menghampiri, mengurung, dalam ruang kesedihan.

Di negeri ajaib ini, kita terus berhadapan dengan berbagai krisis; bencana alam tak henti datang, konflik politik yang berujung pada anarki, sekelompok besar kisah tak berakhir tentang korupsi, kebrutalan terhadap sesama antar agama, himpitan ekonomi yang tak terelakkan, yang dilengkapi dengan kenaikan bahan bakar minyak baru-baru ini. Belum lagi konflik individu atau interpersonal, masalah eksistensi, masalah kepribadian hingga masalah keluarga yang lazim melanda. 

Seluruh ihwal di atas memiliki kesanggupan menjadi penyebab seseorang mengidap depresi. Secara lebih dalam, perspektif Buddhis menyebutkan bahwa penyebab pokok depresi adalah ego. Aku. Keakuan yang akut.

Penonton yang bijaksana,
Saya mereka anda sekalian telah tahu bahwa depresi bukan sesuatu yang baru saja tiba di kehidupan. Jauh sebelumnya, adam dan hawa pun mengidapnya. Kitab-kitab suci juga meriwayatkan para nabi yang pernah mengalami depresi berat.

Dulu, para ahli hidup rohani menyuluh bahwa depresi adalah dosa. Dosa kesedihan. Dosa kesedihan itu termasuk sebagai salah satu di antara tujuh dosa yang mematikan iman. Pada abad ketujuh belas kesedihan dicabut dari himpunan dosa yang mematikan. Diubah menjadi dosa kemalasan (sloth). Perubahan ini mengacu pada gejala penderita depresi yang kerap merasa malas dan lemas.

Ilmu psikologi modern, di abad keduapuluh, membantu kita untuk memahami bahwa masalah-masalah kesedihan dan keputusasaan tadi bukan dosa melainkan penyakit yang akhirnya dinamai depresi.

Penonton yang budiman,
Saya ingin mengutip definisi seorang ilmuwan bernama Philip L. Rice tentang depresi. Ia menyatakan depresi sebagai gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan, dan berperilaku) seseorang.

Bahwa depresi biasanya terjadi ketika seseorang mengalami stres yang tak segera reda. Pengidap depresi umumnya menunjukkan gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang spesifik. Semisal sedih berkepanjangan, merasa diri tak berguna, murung, mudah marah, sensitif, dan kesepian.

Mereka yang menderita depresi merasa diliputi kegelapan sehingga akhirnya menduga bahwa muara penyelesaiannya adalah bunuh diri. Kita mungkin masih menyimpan ingatan tentang seorang anak sekolah dasar yang diberitakan bunuh diri lantaran tak mampu membayar biaya sekolah. Atau ibu yang membunuh anaknya kemudian membunuh dirinya sendiri karena tak mampu menanggung biaya hidup sehari-hari.

Organisasi kesehatan dunia mencatat depresi adalah gangguan mental yang umum terjadi di antara populasi. Diperkirakan 121 juta manusia di dunia ini menderita depresi. Dari jumlah itu 5,8 persen laki-laki dan 9,5 persen perempuan. Tidaklah mengherankan bila diperkirakan 60 persen dari seluruh kejadian bunuh diri terkait dengan depresi (termasuk skizofrenia).

Penonton yang rupawan,
Karya teater Mala Jiwa menelusuri sejumlah pengalaman personal para aktor dan responden perihal peristiwa dramatik yang menyulut depresi di tubuh mereka. Penelusuran tersebut ditampilkan ke hadapan anda sekalian tidak dalam sebuah jalinan cerita yang runtut. Adegan-adegan menjelma montase yang menuju pintu yang sama.

Impresi terhadap peristiwa dramatik tersebut berlangsung di sebuah ruang keluarga—mungkin ruang keluarga anda—di atas sebuah sofa yang menampung banyak duka; di jalan raya yang bising, di rumah sakit depresi—mengungkapkan segala yang tak tertanggungkan oleh jiwanya, sembari sesekali mempertanyakan kembali ihwal yang pernah mereka alami, yang kini menjelma ilusi:

“apakah aku pernah mencintai seseorang? apakah aku pernah mencintaimu? pernahkah kita bersama menjumpai pagi? pernahkah cintaku menyakitimu?”

Penonton yang baik,
Saya tak ingin catatan ini menjadi begitu panjang, membosankan, dan membuat anda urung menyaksikan teaternya. Jadi saya cukupkan saja di sini. Saya harap anda sekalian dapat melacak diri dari peristiwa teater ini.

Jaga jiwa anda baik-baik.
Salam hangat,
Shinta Febriany